Sorry I’m Late!
by Gede Suarnaya
Biasanya pertemuan pada awal-awal perkuliahan sering tidak dimulai tepat waktu. Kalau bukan dosen, ya berarti mahasiswanya yang terlambat. Atau malah sebaliknya. Namun, perkuliahan waktu itu tidak mengikuti kebiasaan yang sering berlaku. Dosen hadir tepat waktu. Sedang mahasiswanya hampir separuhnya datang terlambat.
Setelah kehadiran mahasiswanya lengkap, dengan sedkit jengkel, sang dosen akhirnya berkata kepada mahasiswanya, kira-kira seperti ini, ”Jika Anda datang terlambat, berarti keterlambatan Anda telah memberikan pesan (message) kepada Saya, bahwa kuliah yang akan saya berikan ini tidak penting bagi Anda. Begitu pula sebaliknya, jika saya (dosen) datang terlambat, berarti Saya menganggap Anda (mahasiswa) tidak penting bagi saya”. Sang dosen melanjutkan, “Jika Anda akan datang terlambat, sebaiknya memberitahukan keterlambatan Anda terlebih dahulu, dengan begitu Anda telah mengirimkan sinyal bahwa perkuliahan atau kegiatan apapun yang akan dihadiri sangat penting bagi Anda”.
Separuh mahasiswa terdiam, dan mengangguk-angguk mengiyakan ucapan sang dosen. Singkat cerita, mereka akhirnya membuat waktu pertemuan dan masing-masing berkomitmen mematuhi kesepakatan itu. Hasilnya, pertemuan berikutnya, semua mahasiswa pada perkuliahan tersebut bukan hadir tepat waktu lagi, melainkan semua datang lebih awal. Luar biasa, ucapan sederhana tersebut ternyata mampu merubah sikap dan prilaku semua penghuni kelas itu menjadi kelas yang selalu hadir tepat waktu. Paling tidak, kebiasaan kecil itu sudah dibangun melalui sekolah sebagai pembentuk karakter individu. Sejatinya, nilai-nilai sederhana seperti inilah yang layak di bawa dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.
Sayangnya, para pemimpin kita di leglislatif malah melupakan nilai-nilai itu. Anggota Pansus di DPR yang membahas agenda penting malah datang terlambat. Seperti yang diberitakan Kompas, 18/11/2011, Pansus yang pada hari itu menjadwalkan rapat dengar pendapat bersama pimpinan sembilan media massa pada pukul 09.00, namun hingga pukul 10.15, rapat Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Perubahan atas UU No.2/2011 tentang Partai Politik itu tak kunjung dimulai. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan para undangan rapat itu. Menunggu sesuatu yang serba tak jelas, kesal dan jengkel sudah pasti menghampiri.
Mengingat kembali ucapan Sang dosen tadi, apakah keterlambatan para anggota dewan tersebut mengirimkan sinyal bahwa rapat itu tidak penting?
Anda mungkin bisa menilainya…
Bagi saya, kedudukan antara pengundang dan yang diundang dalam hal ini adalah sama (equal). Tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah. Tidak ada pamer jabatan dalam hal ini, apalagi pamer kekuasaan. Bagi pimpinan media massa sendiri, pertemuan tersebut jelas sangat penting, karena rapat tersebut menyangkut hal terkait Pemilu yang sangat menentukan kelangsungan bangsa ini. Apalagi, mereka rela menunda agenda masing-masing demi suksesnya rapat itu. Sikap peduli dari para pemimpin media itu tentu merupakan asset yang tak ternilai harganya bagi pemimpin bangsa ini. Tetapi hal itu malah sering terabaikan.
Di salah satu sekolah Negeri di Cimahi misalnya, memasang papan nama besar bertuliskan, “Saya Malu Datang Terlambat” di pintu masuk kelas sekolahnya. Hal tersebut tentu bertujuan untuk membentuk karakter anak-anak dan bagaimana belajar menghargai waktu dan orang lain. Agaknya akan menjadi sia-sia, jika upaya anak-anak penerus bangsa ini untuk menerapkan budaya malu tidak diikuti keteladanan para pemimpinnya.
Jika anak-anak tersebut terlambat, anak-anak bisa saja membuat alasan-alasan seperti, ban bocor, macet, hujan, bangun kesiangan dan lain sebagainya. Atau mungkin dengan seribu alasan pun, keterlambatan mereka masih bisa diterima. Lalu, bagaimana jika yang terlambat itu Pejabat Negara?. Ceritanya tentu akan lain.
Saya teringat dengan pelajaran sepeninggal Steve Jobs, mengenai perbedaan antara The Janitor dan The Vice President. Pelajaran itu selalu ia sampaikan setiap kali seorang eksekutif mencapai pangkat seorang wakil presiden. Yang dikatakannya kira-kira seperti ini:
“When you’re the janitor,” Jobs has repeatedly told incoming VPs, “reasons matter.” He continues: “Somewhere between the janitor and the CEO, reasons stop mattering.” Jika Anda seorang pemelihara bangunan, boleh membuat alasan-alasan. Tetapi Anda harus berhenti membuat alasan-alasan ketika posisi semakin tinggi.
Di Australia misalnya, disana ada adat-istiadat dan kebiasaan yang bisa jadi pelajaran. Tepat waktu dalam pertemuan atau kunjungan lain merupakan hal yang sangat penting. Jika Anda akan terlambat, usahakan menghubungi orang yang bersangkutan supaya mereka tahu. Mengapa? Karena jika Anda melakukan kunjungan ke para profesional seperti dokter, Anda dapat dikenakan biaya karena terlambat atau Anda melewatkan perjanjian tanpa memberi tahu mereka sebelumnya. Jadi, jangan-coba-coba untuk datang terlambat jika tinggal di Australia.
Pernyataan Steve Jobs dan pelajaran dari negeri Kangguru sudah sepantasnya dijadikan cermin bagi para pemimpin di negeri ini untuk lebih sadar akan tanggung jawab yang diembannya. Apalagi tanggung jawab menyangkut undang-undang yang menguasai hajat hidup orang banyak. Tidak ada lagi alasan untuk menunda-nunda, apalagi datang terlambat dalam sidang. “Sory I’m Late”, kata-kata itu tentu tidak bisa kami terima…
Oleh:
Gede Suarnaya
Sumber Gambar: http://sorry-im-late.com
